Tragedi Hoax Ratna: Saya dan Anda Tidak Tahu Semua

0
134
views

M Nabil
Peneliti Senior Palugada Resouruce Center

M Nabil: Sebagai aktivis kawakan sekaligus merupakan anggota tim pemenangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, hoax yang diciptakan Ratna Sarumpaet (RS) tidak hanya menaikkan tensi politik tetapi juga memunculkan beragam spekulasi. Bagi pendukung Prabowo Subianto sendiri, hoax tersebut dianggap merugikan mereka, sementara bagi tim pemenangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin, hal itu dilakukan secara sengaja untuk menurunkan citra jagoannya.

Credit : kumparan.com

Dalam debat-debat publik antara kedua pendukung, jarang ada yang mempertanyakan mengapa RS menciptakan hoax sefatal itu? Apa yang berada di balik kebohongan yang ia ciptakan tersebut? Kalaupun ada pertanyaan tentang itu, kesan yang muncul hanya sekedar untuk meneguhkan bahwa hoax RS merupakan “desain” atau “konspirasi” untuk mendegradasi calon mereka masing-masing tanpa menyodorkan data dan argumen yang memadai.

Gejala yang tak dikenali

Mencermati secara seksama pernyataan RS saat konferensi pers, tampak ia sedang mengalami apa yang dalam teori Johari Window disebut ‘kuadran yang tak dikenali’ (unknown quadrant). Kuadran ini adalah genangan reflektif alam bawah sadar manusia yang berisi tentang pengetahuan, perasaan, bakat-bakat dan kemampuan terpendam, pengalaman traumatik, rasa cemas, ketakutan, prilaku, dan ingatan masa lalu yang sewaktu-waktu bisa muncul dan mengantarkan seseorang jatuh dalam situasi krusial tertentu, baik situasi ‘konstruktif’ maupun ‘destruktif.’ Dalam konteks tragedi hoax RS, kuandran yang tak dikenali ini membuatnya jatuh ke dalam situasi destruktif.

Dalam teori Johari Window unknown quadrant berada di posisi 4 dari 3 posisi lainnya. Teori ini diperkenalkan oleh dua psikolog Amerika Serikat, Joseph Luft dan Harrington Ingham dalam The Johari Window (1955), yang secara spesifik hendak menjelaskan tentang relasi ‘seseorang’ dengan ‘orang lain’ melalui 4 teknik: 1) known to self, 2) not known to self, 3) known to others, 4) not known to others. Keempat teknik ini memiliki wilayah masing-masing: arena quadrant (terbuka), blind spot quadrant (kabur), facade quadrant (tersembunyi), unknown quadrant (tak dikenali).

Kuadran arena adalah apa yang diketahui oleh seseorang tentang dirinya dan juga diketahui oleh orang lain. Dalam konteks hoax RS, misalnya, teman-teman RS sudah kenal lama dengan RS, demikian sebaliknya. Mereka sudah bersahabat sejak lama sehingga saling mengenal secara baik satu sama lain. Jadi wajar jika apa yang diceritkan RS mendapat pembelaan dari teman-temannya.

Kuadran kabur adalah apa yang tidak diketahui oleh seseorang tentang dirinya tetapi diketahui oleh orang lain. Contoh, teman-teman dekat RS tahu bahwa ia seorang perempuan yang menyenangkan/menyebalkan tapi RS sendiri tak menyadari akan hal tersebut.

Kuadran tersembunyi adalah apa yang seseorang tahu tentang dirinya tetapi orang lain tidak mengetahuinya. Ini berkaitan dengan privasi seseorang, misalnya, rahasia pribadi RS yang tak diketahui oleh orang lain, termasuk teman-teman dekatnya.

Kuadran tak dikenali adalah apa yang tidak diketahui oleh seseorang tentang dirinya dan juga tidak diketahui oleh orang lain. Dalam konteks hoax RS, apa yang ia lakukan tidak ia kenali dan sadari sama sekali, dan tiba-tiba muncul ke permukaan di luar kendalinya. RS saja tidak mengenalinya apalagi teman-teman dekat RS atau orang lain.

Kuadran yang tak dikenali yang dialami RS ini sangat tampak dalam pernyataannya ketika jumpa pers dengan awak media pada suatu sore, “Seperti ada kebodohan yang saya tidak pernah bayangkan bisa saya lakukan dalam hidup saya…dan saya tidak tahu kenapa, dan saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan terjebak dalam kebodohan seperti itu…jadi tidak ada penganiayaan. Itu hanya cerita khayal entah diberikan oleh setan mana ke saya dan berkembang seperti itu.”

Kuadran yang tak dikenali ini berupa “misteri” yang ada dalam diri manusia; ia tak bisa dikenali, tetapi betul-betul ada dan sewaktu-waktu bisa muncul. Ia adalah kondisi kejiwaan seseorang, karakter, dan semua potensi terpendam yang menggenang dalam alam bawah sadar. Ia menjadi wilayah medan tempur antara sisi idealitas keluhuran diri dan sisi realistis material diri. Seseorang tidak akan mengenali kuadran ini sampai ia menemukan sesuatu yang “mengejutkan” perihal dirinya—baik itu konstruktif maupun destruktif—melalui observasi sepanjang hidup, dan pengalaman-pengalaman yang telah dilalui. Setiap individu memiliki kuadran ini, dan pada umumnya muncul sebagai bentuk respon terhadap situasi krisis tertentu yang sedang dialami.

Credit : bbc.com

Mengalami krisis

Pertanyaannya, apakah RS mengalami situasi “krisis” ketika menciptakan hoax tersebut? Apabila menelaah secara lebih cermat pernyataan RS saat jumpa pers, kelihatan sekali bahwa RS sedang mengalami krisis kepercayaan-diri, setidaknya dalam lingkaran keluarganya sendiri. Hal itu bisa dilihat dari kata-kata RS berikut:

“Setelah operasi dijalankan pada tanggal 21, tanggal 22 pagi, saya bangun saya melihat muka saya lebam-lebam secara berlebihan atau secara tidak seperti yang saya alami biasanya. Ketika dokter…visit, saya tanya ini kenapa? Dia bilang, itu biasa… Saya pulang seperti membutuhkan alasan pada anak saya di rumah, kenapa muka saya lebam-lebam. Dan memang saya ditanya, kenapa? Dan saya jawab, dipukul orang. Jawaban pendek itu dalam satu minggu ke depannya terus dikorek. Namanya juga anak, melihat muka ibunya lebam-lebam, kenapa.”
Dalam pernyataan di atas, RS mengakui bahwa ia mengalami situasi yang tidak biasanya setelah operasi dilakukan: lebam-lebam. Sebagai aktivis kawakan yang malang melintang dan tanpa henti memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan melawan banyak rezim, bahkan rezim represif sekalipun, kehidupan RS diliputi heroisme dan perjuangan yang tak berkesudahan. Karena itu jika ada pertanyaan dari anak-anaknya mengapa mukanya lebam-lebam, bukanlah jawaban yang tepat dan mewakili nilai-nilai heroisme bila ia bilang hanya akibat dari operasi plastik. Ia bukanlah pesolek dengan profesi penghibur pemirsa di televisi yang dituntut tampil “cantik” sehingga kenapa harus melakukan operasi plastik. Sebagai aktivis, profesinya justru berlawanan dari itu. Jika jawaban yang diberikan adalah akibat dari operasi plastik, justru itu menyagkal reputasinya yang sudah digeluti sejak lama sebagai pejuang kemanusiaan.

Pada titik inilah RS mengalami krisis kepercayaan-diri, sehingga ia harus mencari dan membuat jawaban yang dianggapnya lebih heroik, yang tak meniadakan reputasinya selama ini. Karena itu jawaban bahwa “dipukul orang” jauh lebih mewakili profil RS yang selama ini penuh dengan heroisme dan keluhuran daripada bilang sekedar karena “operasi plastik.” Dan dengan jawaban ini ia tak menyadari bahwa itu akan berbuntut panjang, menyeret banyak orang—bahkan calon presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto—ke dalam kuadran yang ia sendiri tak mengenalinya. RS tidak tahu, kita juga tidak tahu!

Kembali ke laptop

Setelah sempat mengaduk-ngaduk perasaan publik, utamanya para elit politik, aktivis, dan pecandu media sosial selama beberapa hari, hoax yang diciptakan RS telah terang-benderang. Polisi sudah menetapkannya sebagai tersangka setelah ditangkap di dalam pesawat ketika hendak pergi ke Chili menghadiri suatu konferensi tentang perempuan. Saat ini biarlah aparat penegak hukum bekerja secara profesional dan transparan menangani kasus tersebut, termasuk spekulasi soal “desain” atau “konspirasi” untuk menghantam capres tertentu. Dan tulisan ini meyakini bahwa kasus hoax tersebut akan berhenti di RS saja, tak ada lagi pihak ketiga, apalagi didesain sebagai konspirasi untuk menyudutkan capres tertentu. Karena saat menciptakan hoax, RS hanya sedang mengalami krisis kepercayaan-diri. Dan itulah yang membuat unknown quadrant yang dimilikinya menyelinap begitu saja ke permukaan, tanpa bisa ia ketahui dan kendalikan. Hal seperti ini bisa dialami oleh siapa saja dan kapan saja.

Saat ini para pendukung capres-cawapres harus kembali ke laptop masing-masing. Anggaplah tragedi hoax RS adalah kisah masa lalu sebagai “bumbu” pesta rakyat mencari para pemimpin terbaik. Kedua capres tak ada yang dirugikan dengan tragedi ini. Yang dirugikan adalah RS sendiri. Karena itu yakinkanlah rakyat Indonesia bahwa calon-calon Anda memang layak dipilih oleh mereka tanpa harus menciptakan hoax. [*]

LEAVE A REPLY