Rendahnya Moralitas Politisi Kita

0
124
views

Mohamad Shobary
Budayawan, Mantan Dirut LKBN Antara 

Kita tidak memiliki data dan profil mengenai politisi kita. misalnya; siapa mereka, sekolahnya dimana, apa latar belakang ideologinya – kalau mereka memang punya ideologi– dari keluarga macam apa mereka berasal, mengapa mereka memilih dunia politik sebagai karir, adakah pilihan lain, dan aspirasi politik macam apa yang mereka miliki. Ini pun jika mereka punya suatu aspirasi politik tertentu 

gambar : pixabay.com

Perlu juga diketahui bagaimana wawasan mereka mengenai politik. Apa yang mereka ketahui mengenai tokoh tokoh besar di dunia politik, dan bagaimana pandangan dan sikap mereka terhadap orang orang besar tersebut? bagaimana mereka memandang politik sebagai jalan perjuangan di negeri yang secara kebudayaan bersifat pluralistik seperti negara kita ini? Gagasan apa yang ada di benak mereka ketika mereka menyadari keruwetan, misalnya di dalam politik – keagamaan, yang cenderung tampak menegangkan, dan mematikan hak hak kelompok lain yang tidak sejalan dengan sikap dan pandangan keagamaan tertentu?

Tidak kalah penting, harus ditanyakan kepada mereka, bagaimana sikap dan pandangan mereka mengenai agama, yaitu dunia moral, sejarah, etika, dan teladan agung kehidupan, diperhadapkan dengan kenyataan hidup yang ruwet, penuh tekanan dan ketidakadilan ekonomi, politik, maupun kebudayaan. Apa peran agama dalam kondisi kebangsaan seperti ini? Dan lebih mendasar lagi, bagaimana mereka menerjemahkan makna agama di dalam hidup, agar agama sungguh sungguh memiliki peran penting untuk membentuk suatu bangsa yang memiliki keteguhan moral dan membuktikan bahwa manusia yang berpegang teguh pada suatu agama tak mungkin menyimpang dari garis ajaran luhur?

Dengan kata lain pertanyaan ini ingin menegaskan bahwa agama tidak bisa dimain mainkan. Hanya menjadi sekedar nama partai, dan sekedar dijual murah untuk menarik pengikut. Dan dalam kehidupan sehari hari, agama kelihatan begitu mudah disimpangkan. Selebihnya, Pertanyaan ini bermakna menggali jawaban mengenai ketulusan beragama dan berpolitik untuk membangun moralitas politik yang beneran, yang memihak keluhuran moral yang ditetapkan Tuhan di dalam kitab kitab suci, dan secara riil, ada kesungguhan membela kepentingan rakyat

Apakah para politisi  kita pernah terganggu oleh kegelisahan mengenai betapa rendahnya cara kita memperlakukan apa yang ideal, sebagaimana tampak dalam praktek praktek kotor dunia politik kita? mungkinkah mereka sama sekali tidak perduli dengan kenyataan memalukan, ketika para tokoh politik yang berhaluan agama, justru berada di garis depan dalam penyimpangan moral, dan menghancurkan ekonomi bangsanya sendiri? 

Suatu jenis protes moral seperti apa yang  ada pada jiwa politisi kita yang begitu mereka menyadari bahwa tokoh politik berhaluan agama justru tampak mencolok – -dan kelihatannya tidak merasa malu– melacurkan prinsip moral, yang dalam ibadah kelihatannay di junjung tinggi?

Kemudian secara khusus, adakah dikalangan politisi kita yang berhaluan keagamaan, muncul suatu kesadaran bahaw agama telah dilacurkan secara terbuka dalam politik , oleh para politisi maupun oleh para agamawan yang serakah dan tak mengenal lagi sikap “zuhud” yang mereka khutbahkan?

Kelihatannya, para politisi kita — bahkan termasuk politisi berhaluan keagamaan– tak peduli sama sekali melihat kenyataan yang mengenaskan macam ini. Tak ada pemikiran kritis bahwa berhubung para agamawan sendiri juga ikut melacurkan agama, maka sebaiknay diadakan suatu protes, agar mereka belajar dari khutbah khutbah mereka sendiri. Kalau para agamwan sendiri tidak pernah belajar atau menghargai khutbah khutbah mereka, maka mana mungkin orang lain disuruh menghargainya?

 Selebihnya mungkin bagus jika agamawan- agamawan yang ditandai terlalu serakah dan menggunakan kekuatan keagamaan untuk memperkaya diri, harus dihukum bukan lagi agamawan. Adakah sikap politik seperti ini di kalangan umat, yang konon cerdas dan paham akan makna agama sebagai kekuatan protes?

Kalau kesadaran macam ini terbentuk,mungkinkah ada suatu sikap, bahwa pada suatu saat, dalam suatu khutbah agama, para jamaah bubar total, karena tak mau mendengarkan kemunafikan yang dikhutbahkan? Kalau kesadaran dan tindakan ini masih tak mungkin muncul di masyarakat kita, maka kita turut serta secara terbuka menerlantarkan agama. Kecuali itu kita juga turut penyimpangan dalam kehidupan seolah penyimpangan itu barang biasa, seperti kita saksikan saat ini

Sikap terhadap para politisi dari kalangan keagamaan yang serakah, korup, dan berlebihan menikmati kekayaan hasil korupsi, maka rakyat harus melawan. Dia mungkin golongan kita, tetap kita tidak peduli. Kita bukan memihak teman, golongan, tapi memihak kepada nilai Keindonesiaan, mungkin juga keadilan, kemanusiaan. Disanalah wilayah perjuangan kita 

Persetan dia kawan, persetan dia orang yang sehaluan dengan kita. Ketika dia korup, kita sudah tidak sehaluan lagi. Ketika dia menyimpang dari prinsip moral agama, siapa bilang dia masih kawan kita? Jika kawan sudah bukan kawan lagi, maka koruptor akan berpikir ulang. Tapi jika seorang yang sudah dianggap korup, dan ada tanda tanda bahwa anggapan itu benar, maka membelanya berarti membela kejahatan dan kita yang membelanya itu, juga penjahat

Kejahatan akan hancur, jika penjahatnya merasa dunia sudah tidak lagi mengampuninya. Kawan kawan sudah menjauh. Orang satu partai tidak lagi bersedia berkomunikasi dan berbagi suka duka kehidupan. Dunia sudah tertutup baginya. Dan jika ini yang terjadi, maka jelas bahwa kita membela tegaknya harga diri partai, harga diri ketua partai, harga diri kawan kawan partai, dan harga diri kita sendiri. Dengan begitu kita mengubah rendahnya moral politisi kita yang memalukan ini. Tak ada orang lain, atau bangsa lain, yang bakal mau melakukannya kecuali kita. Dan hanya kita!

LEAVE A REPLY