Neraca Perdagangan Indonesia 7 tahun Devisit Transaksi Berjalan, Vietnam 7 Tahun Surplus

0
89
views

Rizal Ramli
Ekonom Senior

TANPA perlawanan yang berarti, rupiah terus menerus turun terhadap dolar AS. Dari sejak awal tahun saja (year to date) nilai rupiah terhadap dolar AS sudah turun lebih dari 7,7 persen (pernah turun ytd sampai lebih dari 12 persen), dan baru dua minggu terakhir rupiah menguat sehingga menjadi 7,62 persen ytd.

rmolsumsel.com

Sedangkan penurunan kurs Vietnam Dong (VND) terhadap dollar year to date hanya 2,74 oersen. Padahal Bank Indonesia juga sudah terus menerus mengguyur pasar dengan suplai dollar sampai-sampai cadangan devisa tergerus terus sehingga dari Januari 2018 sampai dengan akhir Agustus 2018 berkurang  USD 14 miliar atau Rp 204,4 triliun rupiah (kurs Rp 14.600 per dolar AS).

Pemerintah juga tidak kurang-kurang dalam melakukan langkah-langkah untuk menghambat laju turunnya kurs rupiah dollar seperti mengeluarkan kebijakan kenaikan PPh impor terhadap 1.147 komoditas atau barang konsumsi, mengkonversi BBM Solar menjadi biodisel B20 yaitu pencampuran solar dengan bahan bakar yang  berbahan baku CPO sebesar 20%, menambah negara2 tujuan ekspor dll.

Namun semua langkah2 BI dan pemerintah itu terbukti tidak efektif atau membutuhkan waktu yang lama untuk bisa memberikan efek terhadap kurs dollar rupiah yang signifikan.

Khususnya mengenai penaikan tarif PPh impor terhadap 1.147 komoditas mendapat kritik keras dari mantan Menko Perekonomian era Pemerintahan Gus Dur, DR Rizal Ramli bahwa penaikan tarif tersebut hanya terhadap barang kecil2 seperti lipstick, tas, pakaian dsb. sehingga efeknya terhadap penurunan impor juga akan kecil.

Rizal Ramli menyatakan bahwa Sri Mulyani sebagai Menkeu tidak berani menaikkan tarif PPh impor komoditas sepuluh besar misalnya baja yang selain nilai impornya besar juga serbuan impor itu mengakibatkan industri baja kita terpukul dan dirugikan.

Hal itu menunjukkan bahwa langkah-langkah kebijakan pemerintah yang telah diambil masih langkah kecil-kecil, kurang efektif untuk menjaga nilai rupiah yang turun terus dan mengakibatkan efek negatif yang besar kemana-mana, misalnya kerugian PLN yang Rp 18 triliun dan akibat naiknya harga batubara didunia internasional itu kedepannya juga terhadap proyek-proyek Pembangkit Listrik PLTU berbahan bakar batubara yang sedang direncanakan dan dikerjakan dalam kaitannya proyek 35.000 MW  Indonesia akan rugi sebesar Rp 519 trilium.

merdeka.com

Demikian juga kebijakan pemerintah soal B20 yang berlaku sejak 1 September 2018 sampai sekarang belum ada efeknya yang signifikan. Hal ini  jelas akan menyebabkan nilai impor migas yang akan naik terus dan akan terus menekan nilai kurs rupiah terhadap dolar AS.

Kalaupun ada kenaikan nilai rupiah terhadap dolar AS dalam dua minggu terakhir ini bukanlah kenaikan yang fundamental tetapi karena penggelontoran dolar AS ke pasar oleh Bank Indonesia, dan adanya kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan sela di AS sehingga DPR AS dikuasai oleh Partai Demokrat yang menyebabkan para pebisnis besar dunia menjadi meragukan efektifitas kebijakan Presiden Donald Trump ke depan.

Namun juga harus diingat akan adanya rencana Bank Sentral AS The FED yang akan menaikkan suku bunga yang akan menarik dollar dari Emerging Market termasuk Indonesia sekali lagi pada akhir tahun ini dan 3 kali lagi di tahun depan, 2019.

Kalau ditelisik lebih lanjut mengapa nilai rupiah terhadap dolar AS jauh lebih merosot dari pada nilai Vietnam Dong terhadap dolar AS maka ternyata fundamental ekonomi kita jauh lebih lemah dari pada Vietnam sejak 2012.

Sejak 2012 Neraca Transaksi Berjalan kita defisit terus (sebenarnya sejak kuartal IV 2011), tetapi sebaliknya Vietnam surplus terus menerus dari 2012 sampai kuartal III 2018 (dan mungkin sampai akhir 2018).

Kita tahun 2012 defisit Transaksi Berjalan 24 milia dolar AS, 2013 defisit 30 miliar dolar AS, 2014 defisit 25 miliar dolar AS, 2015 defisit 17,8 miliar dolar AS, 2016 defisit  16,3 miiar dolar AS, 2017 defisit 17,3 miliar dolar AS dan 2018 diperkirakan akan defisit 23 miliar dolar AS.

Sebaliknya kalau kita bandingkan dengan Vietnam, maka datanya sangat menarik. Walaupun Vietnam sejak 1980 sampai dengan 2006 mempunyai defisit transaksi berjalan sekitar 0,5 sampai 2,6 miliar dolar AS setiap tahun , kemudian dari 2007 hingga 2010 defisitnya melonjak di sekitar antara 4 sampai 10,7 miliar dolar AS per tahun, namun setelah 2011 berbalik menjadi surplus kecil yaitu sekitar 0,2 miliar dolar AS, maka dari 2012 sampai dengan 2017 surplus besar dari sekitar 8,2 hingga 10,1 miliar dolar AS dan hanya di tahun 2017 surplus kecil yaitu “hanya” sekitar 2,8 miliar dolar AS, serta di 2018 diperkirakan akan surplus besar lagi.

Kalau dilihat perkembangan fundamental ekonomi Vietnam yang tadinya kurang bagus dalam jangka waktu yang cukup lama yaitu lebih dari 25 tahun, tetapi kemudian tujuh tahun belakangan ini membaik dengan sangat signifikan.

Dengan catatan bahwa ekspor Vietnam sangat didukung oleh produk-produk teknologi seperti gadget Samsung dan juga tekstil ekspornya dua kali lipat dari Indonesia).

Sebaliknya ekonomi Indonesia turun drastis sejak 2012 sampai sekarang akibat dari ekspornya hanya mengandalkan bahan mentah yaitu CPO dan batubara yang harganya menurun sejak 2012.

Sangat terlihat bahwa kualitas perekonomian yang dicerminkan dari surplus atau defisit transaksi berjalan, Vietnam jelas jauh lebih bagus dari Indonesia.

Para menteri ekonomi Vietnam bahkan mampu membalikkan kondisi perekonomian yang tadinya dalam jangka waktu lama  kurang bagus, dalam tujuh tahun terakhir menjadi sangat positif. Namun bukan hanya itu saja, kualitas ekonomi yang ditunjukkan oleh struktur ekonomi yang berbasis teknologi dan manufacturing jelas Vietnam lebih maju dari Indonesia yang hanya mengandalkan produk bahan mentah dan hasil tambang yang tidak diolah.

Memang ada faktor lain yang harus dilihat selain neraca transaksi berjalan yaitu neraca pembayaran yang bisa mengkompensasi defisit transaksi berjalan . Namun suatu perekonomian akan sangat bagus dan kuat fundamentalnya bila transaksi berjalan dan neraca pembayarannya keduanya surplus. Tetapi tentu saja hal itu memerlukan kerja keras dan kecerdasan dari menteri-menteri ekonominya.

Jadi hal seperti itu juga jelas menunjukkan kualitas dari menteri-menteri ekonomi yang membuat kebijakan-kebijakan perekonomian dan berada di pemerintahan kita baik dimasa sekarang maupun sebelumnya.

Padahal bermacam-macam masalah ekonomi global yang dihadapi oleh Vietnam sama sulitnya dengan Indonesia. Tetapi kesulitan-kesulitan yang ditimbulkan oleh ekonomi global diantisipasi dan diatasi Vietnam, disini hanya digunakan untuk alasan dan dalih untuk menutupi perekonomian yang tidak berprestasi.

Bahkan disini bukan prestasi perekonomiannya yang dikejar tetapi pencitraannya dengan rekayasa sebagai menteri  terbaik sedunia yang diberikan di World Development Summit di Dubai, menteri keuangan terbaik 2018 se-Asia Pasifik Timur yang diberikan di Nusa Dua Bali oleh majalah Global Markets yang terkait dengan IMF dan Bank Dunia, dsb.

Pada akhirnya publik bisa menilai sendiri ternyata kualitas menteri ekonomi yang bersangkutan jauh lebih rendah dari menteri-menteri ekonomi Vietnam. [***]

LEAVE A REPLY