Mengapa Australia Melarang Warganya Naik Lion Air

0
90
views

Dian Islamiyati Fatwa
Mantan Koresponden ABC, Caleg DPR RI Dapil Jaksel dari PAN 

Saya tidak kaget dengan keputusan pemerintah Australia untuk melarang staff pemerintah tidak menggunakan pesawat Lion Air menyusul kecelakaan Lion Air JT-610 di perairan Karawang Jawa Barat.

Sebetulnya sudah lama perusahaan-perusahaan Australia melarang pegawainya melakukan perjalanan menggunakan pesawat berbiayai murah/budget airlines atau airline dengan reputasi kedodoran karena jumlah kecelakaan yang tinggi. Karena tentu mereka meragukan standard keselamatan yang diterapkan dengan biaya murah merintih.

Saat saya bekerja di ABC – Australia Broadcasting Corporation berkantor di Melbourne, saya sering melakukan perjalanan dinas ke luar negeri. Hampir 50 persen waktu saya berkeliling ke negara-negara Asia Tenggara terbang menggunakan bermacam-macam airlines.

Saya harus nerimo ketika sekertaris memesan tiket dengan jalur yang berputar dengan alasan safety, tidak mau memesan airlines dengan rating rendah menurut CASA (Civil Authority Safety Authority) regulator Australia yang mengatur keselamatan penerbangan. Dari sisi cost dan waktu jelas tidak efisien, namun policy perusahaan cukup tegas, persoalan safety staff tidak bisa dikompromikan.

Awalnya saya ngeyel tidak mau dan ingin mendapatkan rute direct flight karena lelah, terlalu sering menghabiskan waktu di pesawat dan airport. Pergi ke airport seperti pergi ke stasiun bus, tidak lagi memandang bepergian menggunakan pesawat sebagai suatu kemewahan. Namun sekertaris di kantor menunjukkan sistem pemesanan tiket di kantor memang tidak memunculkan nama maskapai penerbangan yang mempunyai rating rendah. Untuk Indonesia, hanya nama maskapai Garuda Indonesia yang muncul.

Pernah dalam perjalanan kerja ke Timor-timur dari Palu, sekretaris di kantor mengatur rute perjalanan dengan harus balik ke Jakarta lalu terbang ke Darwin menginap semalam dan terbang keesokan harinya ke Dili. Padahal rute tersebut bisa lebih ringkas kalau saya terbang ke Bali via Makassar menggunakan budget airlines dan langsung jos wig-iwig-iwig ke Dili.

Saya tentu saja misu-misu. Untungnya bule, enggak ngerti apa yang saya umpatin ke dia. Saya tunjukin peta Indonesia dan jadwal penerbangan Citilink dan Lion Air yang melayani penerbangan ke rute tersebut. Dia tersenyum dan menunjukkan screen komputernya, tidak ada nama maskapai penerbangan kategori budget airlines seperti Lion Air, Citilink, Batik, Sriwijaya Air yang melayani jalur tersebut.

‘Kalau terjadi apa-apa pihak asuransi tidak akan menanggung perjalanan dinasmu sebab kami memesan tiket di luar sistem yang mengatur keselamatan staff,’ ujarnya tersenyum sabar. Ia seperti membaca pikiran di kepala saya – lebih cepat lebih baik, bukan soal keselamatan.

“We want to see you back in Melbourne in peace not in pieces. Ini adalah untuk keselamatanmu. Kalau kamu masih ngeyel terbang dengan budget airlines, kamu mesti mendapat approval lagi dari beberapa meja. Ini bukan soal cost, tapi keselamatanmu,” ujarnya tegas.

LEAVE A REPLY