Kebohongan Diulang 1000 kali, Akan Menjadi Kebenaran

0
173
views

Syafiq Mughni
Ketua PP Muhamamdiyah 2010-2015, 2015-2020

Suatu ketika ada seorang bertanya kepada Abu Nawas, seorang figur yang dikenal cerdik dalam dongeng Arab. Ia menantang Abu Nawas dengan pertanyaan, “berapa jumlah bintang di langit. Dasar tidak mau kalah, Abu Nawas menjawab, “sebanyak bulu domba itu.” Orang tesebut melanjutkan pertanyaannya, “Bagaimana Anda tahu?” Maka Abu Nawas menjawab, “kalau tidak percaya silahkan hitung sendiri.”

gambar : pixabay.com

Sekalipun itu kisah jenaka, tapi dialog di atas menggambarkan sebuah cara untuk berbohong secara samar. Abu Nawas ingin menyembunyikan ketidaktahuannya dengan cara membuat penanya tidak berkutik. Tapi ini adalah kebohongan yang ringan karena tidak ada unsur penipuan. Tidak ada unsur korupsi atau manipulasi. Pembaca kisah hanya tertawa lepas karena mendengarkan jawaban yang tidak ilmiah tapi masuk akal dan lucu.

Di luar kebohongan yang bersifat jenaka, ada kebohongan yang agak ilmiah; kebohongan dengan permainan angka-angka. Anda mungkin pernah membaca sebuah buku karya Darrell Huff yang berjudul, How to Lie with Statistics, artinya bagaimana berbohong dengan statistik, angka-angka yang bisa mengecoh kita sehingga membuat kesimpulan yang salah.

Pada tahun 2011 lalu, kita mendengar pernyataan bahwa rakyat Indonesia semakin makmur, kemiskinan semakin berkurang. Angka-angka dipaparkan untuk meyakinkan pembaca bahwa memang rakyat Indonesia benar-benar semakin sejahtera. Tanpa disebut secara eksplisit, pesan itu menyatakan bahwa pemerintah telah berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, dan karena itu jangan dikritik.

Tapi, untung di antara 240 juta lebih penduduk Indonesia ada yang cermat. Mereka menanyakan dari mana angka-angka itu didapatkan; dari kantor statistik atau laporan lurah, camat dan bupati? Padahal, orang tahu bagaimana cara kerja mereka mendapatkan data dan bagaimana melaporkannya. Jika hanya 10 persen rakyatnya bertambah kaya, dan 90 persen tetap saja miskin, apakah ini berarti rakyat semakin makmur?

Jika jurang ketimpangan ekonomi semakin lebar, tentu kesejahteraan semakin turun. Banyak kajian dan perasaan umum yang menyatakan bahwa jumlah orang miskin malah semakin banyak. Tapi percayalah ini adalah adalah kebohongan yang ilmiah karena menggunakan statistik supaya banyak orang percaya bahwa Indonesia memang semakin makmur.

Kecuali itu, ada kebohongan yang juga agak ilmiah; tidak memakai data, tapi membuat pernyataan terbuka. Sepuluh tahun yang lalu ada seorang tokoh yang menyatakan tanpa data bahwa ormasnya memiliki 45 juta anggota. Tiga tahun kemudian, tokoh lain yang menggantikan menyebut angka 60 juta. Ini berarti ada tambahan anggota baru 15 juta dalam masa tiga tahun. Mungkin saja, lima tahun yang akan datang sudah menjadi 80 juta, dan sepuluh tahun lagi 110 juta. Percaya? Ini cerita lain.

Ada cerita lain lagi. Seorang tokoh organisasi perempuan membuat pernyataan bahwa organisasinya memiliki 400 rumah sakit. Orang awam bisa jadi percaya bahwa 400 rumah sakit itu benar-benar rumah sakit dan benar-benar miliknya. Percayakah? Masih ada tambahan lagi: sebuah ormas mengaku punya 21.600 pesantren. Percaya?

Tapi untung masih ada orang yang kritis. Mereka bertanya apa makna memiliki dalam kalimat itu. Bisa jadi, memiliki bermakna mengaku memiliki, sehingga tidak diperlukan data legal yang bisa dipercaya. Mungkin juga angka-angka disebut untuk membuat kesan besar padahal tidak berdasarkan data. Walhasil, banyak yang tertipu dengan angka-angka itu.

Orang yang tidak memahami watak orang Indonesia mungkin percaya terhadap pernyataan-pernyataan itu. Orang asing banyak yang menganggap angka-angka itu betul-betul riil. Mereka tidak tahu bahwa di Indonesia banyak pembohong yang kalau ditanya dari mana angka itu didapat, akan menjawab, ”kalau tidak percaya, silahkan hitung sendiri.”

Saya pernah mendengar pepatah Tionghoa. Pepatah itu menyatakan, “Setelah kebohongan diulang seribu kali, maka akan terdengar seperti kebenaran.” Konon, Adolf Hitler, tokoh Nazi dari Jerman dan aktor Perang Dunia II, juga pernah berkata, “Kebenaran adalah kebohongan yang diulang-ulang 1000 kali.” Saya belum tahu pasti apakah pepatah Tiongkok itu mengambil dari Hitler ataukah sebaliknya. Mungkin juga kebetulan sama.

Kata-kata itu, saya yakin, bukan mengajarkan kita agar berbohong, tetapi mengajak agar kita tidak mudah tertipu dengan kebohongan yang diulang-ulang. Tentu, membuat kebohongan 1000 kali itu lebih mudah, tetapi mengingat kemarin bohong apa lebih sulit, kecuali kebohongan yang sudah dirancang dengan baik.

Kata orang bijak, “Anda tidak akan bisa menipu semua orang pada setiap saat.” Pasti akan ada orang cerdas yang bisa membongkar kebohongan dan membedakannya dan kejujuran.

sumber: pwmu.co

LEAVE A REPLY