Investigasi Indonesialeaks: KREDIBILITAS DAN INTEGRITAS KPK DIPERTARUHKAN

0
247
views

Laporan investigasi Indonesialeaks tentang hilangnya dokumen hasil penyidikan kasus korupsi impor daging yang berkaitan dengan aliran dana korupsi yang melibatkan petinggi lembaga penegak hukum, menimbulkan heboh publik di Tanah Air. Pasalnya dalam laporan tersebut ditemukan adanya indikasi penghilangan jejak dokumen hasil penyidikan berupa penyobekan lima belas lembar berkas transaksi haram pada buku merah bank pada kasus penyapan atas Patrialis Akbar oleh tersangka Basuki Hariman oleh penyidik KPK yang berasal dari polri pada tangga 7 April 2017 di ruang Kolaborasi Gedung KPK lantai 7

Perobekan buku sampul merah atas nama PT Impexindo Pratama berisi pengeluaran perusahaan selama 2015-2016, dengan nilai transaksi pengiriman uang sebesar Rp 4,337 milliar dan US$ 206,1 ribu. Ada dugaan motiv utama penyobekan  lima belas lembar tersebut adalah menutupi, menggelapkan dan meniadakan barang bukti aliran dana korupsi kepada petinggi lembaga penegak hukum dari perusahaan Basuki Hariman

Sementara itu BAP yang dibuat oleh penyidik KPK Surya Tarmiani pada tanggal 9 Maret 2017, yang isinya memuat keterangan saksi Kumala Dewi Sumartono tentagn rincian laporan transaksi keuangan, dalam posisinya sebagai bagian keuangan CV Sumber Laut Perkasa justru tidak ada dalam berkas perkara. Padahal isi BAP yang dibuat penyidik KPK Surya Tarmiani memuat 68 transaski dalam buku merah atas nama Serang Noor, dan 19 catatan transaksi  untuk individu terkait institusi kepolisian. Laporan investigasi Indonesialeaks merilis bahwa catatan laporan transaksi dalam buku merah berisikan paling banyak nama Tito Karnavian disebut sebut paling banyak menerima aliran dana baik dari Basuki Hariman secara langsung maupun dari orang lain, baik dalam posisi Tito Karnavian sebagai kapolda Metro Jaya, maupun saat ia menjabat kepala BNPT dan menjabat Kapolri

Menurut Bambang Widjojanto, mantan komisioner KPK, peristiwa penghilangan dokumen barang bukti oleh penyidik KPK yang berasal dari Polri sebagai sebuah kejahatan hakiki dengan derajat luar biasa karena terjadia di depan mata  hidung dan telinga para pimpinan KPK yang dianggap berdiam diri. hal ini menandai matinya akal nurani keadilan dan mati suri institusi KPK yang selama ini dpercaya rakyat dalam pemberantasan korupsi. Kredibiltias dan integritas KPK dipertaruhkan untuk bisa membongkar skandal hukum yang bisa menghancurkan nama baik KPK, yang sudah susah payah dibangun sekian puluh tahun. 

Pihak KPK sendiri sudah merasa pasrah atas raibnya lima belas lembar catatan aliran dana hasil korupsi ke petinggi polri. Menurut Jubir KPK Febri Diansyah, sebagaimana dikutip viva.co.id, menyatakan bahwa pihaknya sudah berupaya mengusut kasus tersebut melalui direktorat pengawasan penyidikan internal KPK. Tapi sebelum pihak internal KPK mengusut dua penyidiknya, terlebih dulu Mabes Polri lembaga asal dua penyidik tersebut, sudah menariknya kembali ke Mabes Polri dengan alasan sedang ada penugasan baru

Agus Raharjo, pimpinan komisioner KPK menegaskan bahwa pemulangan dua penyidik KPK tersebut ke institusi asal sudah merupakan hukuman berat. Pernyataan ini dibantah oleh Bambang Widjojoanto, bahwa tidak bisa dijadikan alasan pengembalian dua penyidik KPK ke Polri untuk menghentikan pengusutan kasus tersebut, karena ini akan sangat mempengaruhi reputasi nama baik KPK dan kepercayaan masyarakat terhadap KPK 

Kasus ini mengingatkan masyarakat akan kekisruhan KPK ketika berhadapan dengan institusi Polri. Kita masih ingat kasus Cicak vs Buaya, sebuah istilah yang di populerkan Komjen (purn) Susno Duadji untuk menggambarkan perseteruan KPK vs Polri dalam pengungkapan kasus kasus korupsi yang melibatkan oknum petinggi polri, sehingga menimbulkan ketegangan hubungan KPK dengan Polri. Contoh lainnya adalah kasus korupsi simulator SIM yang melibatkan Direktur Dirlantas Mabes Polri Irjen Djoko Susilo, oleh penyidik Novel Baswedan yang juga berasal dari Polri menimbulkan ketegangan yang sangat memanas, hingga terakhir kasus penyiraman air keras ke penyidik KPK Novel Baswedan yang sampai sekarang tidak jelas hasilnya 

LEAVE A REPLY