Atlet Judo Berjilbab di Diskualifikasi: Tolak Diskriminasi dan Rasisme Dalam Olahraga

0
215
views

Atlet Judo putri Miftahul Jannah di diskualifikasi dari kompetisi judo dalam Asia Para Games, karena menolak melepas jilbab yang digunakannya, pada pertandingan senin 8/10/2018 di JIExpo Kemayoran. atlet ini lebih memilih mempertahankan jilbabnya ketimbang harus melepas demi sebuah medali. 

Credit : viva.co.id

Miftahul Jannah, yang berasal dari Aceh Barat Daya merupakan atlet Judo penyandang tuna netra berusia 21 tahun sudah berprestasi dibidang olahraga ini. Ia menyandang tuna netra sejak berusia tiga tahun.  Sikapnya yang lebih memiih mempertahankan penggunaan jilbab didukung oleh wakil bupati Aceh Barat Daya, Muslizar. Menurutnya, sikap Miftahul Jannah sudah tepat yaitu lebih mementikan aqidan dan keyakinan ketimbang semata mengejar prestasi, ia memilih diskualifikasi ketimbang  mengorbankan keyakinannya 

Benarkah penggunaan jilbab di larang dalam kompetisi olaharaga dunia seperti Asian Games atau Olimpiade? Apa yang dialami oleh Miftahul Jannah mirip dengan pengalaman pejudo asal Saudi Arabia yaitu 
Wodjan Ali Seraj Abdulrahim Shahrkhani, yang pada mulanya ditolak untuk ikutt dalam olimpiade tahun 2012 pada pertandingan Judo karena menggunakan jilbab. Tapi setelah melalui berbagai upaya, akhirnya pihak federasi judo internasional (IFJ) menyetujui permintaan Wodjan untuk ikut pertandingan Judo dengan tetap menggunakan jilbab yang dirancang khusus. Alasan IFJ untuk menghormati sensitifitas keagamaan di Saudi Arabia

Credit : pojoksatu.id

Pelarangan Miftahul Jannah untuk tetap menggunakan jilbaba oleh panitia Asian Para Games dalam pertandingan judo dianggap sangat aneh. karena  selama ini beberapa event pertandingan seperti karate, judo, silat, taekwondo sudah biasa dan boleh menggunakan jilbab bagi para muslimah, yang dirancang secara khusus sehingga tidak mengganggu pertandingan. 

Penggunaan jilbab merupakan bagian ekspresi keberagamaan yang dijamin oleh konstitusi UUD 1945. hak kebebasan ini harus dihargai oleh siapapun termasuk panitia penyelenggaran Asian Para Games. Panitia tidak seharusnya melarang peserta untuk ikut bertanding hanya karena urusan pakaian jilbab. Seharusnya panitia memberikan sosialisasi tentang standar jilbab bagi para atlet yang ikut bertanding. Panitia tidak boleh bersikap diskriminatif apalagi rasis mendiskualifikasi peserta hanya melihat dari sisi penampilan jilbab yang sebenarnya tidak mengganggu pertandingan. Panitia Asian Para Games seharusnya juga lebih peka dan sensitif tentang persoalan jilbab karena Indonesia sebagai negara mayoritas muslim sangat menghargai dan menghormati ekspresi kebebasan beragama termasuk dalam hal penggunaan jilbab

 

LEAVE A REPLY